Ridha Azizi
A. Latar Belakang
Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara
substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan
dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat
keberadaan filsafat. Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran pemikiran filsafat barat.
Tanpa bermaksud untuk mengkonsentrasikan kajian pada pemikiran barat dan
mengesampingkan pemikiran diluar barat; meskipun juga akan sedikit
dibahas persentuhan pemikiran barat dengan dunia timur tengah (baca;
Islam), kajian ini akan lebih banyak mengulas tentang sejarah
aliran-aliran pemikiran barat dimulai dari zaman Yunani klasik yang pada
akhirnya melahirkan spesialisasi dan sub-spesialisasi ilmu pada abad
ke-20.
Semenjak Immanuel Kant yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin
ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan
manusia secara tepat; maka semenjak itu pula refleksi filsafat mengenai
pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Dan lahirlah pada abad 18
cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan (theory of
knowledge atau epistemology). Melalui cabang filsafat ini diterangkan
sumber serta tatacara untuk menggunakan sarana dan metode yang sesuai
guna mencapai pengetahuan ilmiah. Diselidiki pula evidensi dan
syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi apa yang disebut kebenaran
ilmiah, serta batas batas validitasnya.
Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu (Science) pada dasarnya merupakan usaha
untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan sehari-hari
yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama dengan
menggunakan berbagai metode. Dan karena pengetahuan ilmiah (atau yang
biasa disebut-sebut sebagai ilmu) merupakan a higher level of knowledge,
maka lahirlah filsafat ilmu sebagai pengembangan dari filsafat
pengetahuan. Bidang garapan filsafat ilmu tidak jauh dari
komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi pengetahuan
ilmiah, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dan dalam
pengembangannya filsafat ilmu juga mengarahkan pandangannya pada
strategi pengembangan ilmu yang menyangkut aspek etik dan heuristik.
Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
umat manusia.
Filsafat ilmu sebagai disiplin yang mandiri baru hadir pada tahun
1920-an; dimana sebelumnya pemikiran kefilsafatan tentang ilmu dapat
dikatakan lebih merupakan produk sampingan pengembangan epistimologi.
Pada mulanya kajian filsafat tentang pengetahuan ilmiah berusaha
menjelaskan usur-unsur yang terlibat dalam proses penelitian tentang
pengetahuan, yaitu: prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argument,
metode penyajian, analisis, dan seterusnya. Kemudian dalam bentuk
kontemporer topik filsafat ilmu berkembang sampai pada analisis dan
diskusi eksplisit mengenai cabang-cabang ilmu spesifik yang kedudukannya
setara dengan filsafat epistemologi itu sendiri. Dari pada itu kemudian
ada istilah tentang filsafat ilmu umum dan filsafat ilmu khusus.
Dari sini tampak bahwa kemandirian filsafat ilmu disebabkan atau
didorong oleh perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu alam yang sangat
cepat dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Perubahan-perubahan
kemasyarakatan yang fundamental, meluas dan cepat yang berkaitan erat
dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam berbagai bidang telah
memunculkan berbagai masalah dan krisis kemasyarakatan dan menyebabkan
sejumlah ilmuwan dan filsuf memberikan perhatian khusus terhadap ilmu.
Namun sampai saat ini penulis sendiri masih merasakan adanya kekaburan
mengenai batas-batas dari cabang ilmu yang satu dengan yang lain,
sehingga interdependensi dan interrelasi ilmu menjadi sangat terasa.
Oleh karena itu penulis memberi asumsi bahwa dibutuhkan suatu overview
untuk meletakkan jaringan interaksi untuk saling menuju hakikat ilmu
yang integratif.
Diharapkan dengan menunjukan sketsa umum berbagai gambaran secara garis
besar mengenai kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pada
gilirannya melahirkan suatu cabang filsafat ilmu, kiranya menjadi jelas
bahwa filsafat ilmu adalah refleksi filsafat yang tidak pernah mengenal
titik henti dalam menjelajahi kawasan ilmiah untuk mencapai sebuah
kebenaran. Hakikat ilmu itu sendiri menjadi penyebab fundamental dan
kebenaran universal selalu melekat kepadanya. Maka dengan mengetahui
filsafat ilmu berarti akan memahami seluk beluk ilmu yang paling dasar
sehingga dapat diupayakan kemungkinan pengembangannya serta mengerti
keterjalinan antar ilmu yang satu dengan yang lain.
B. Periode Klasik (Abad Sebelum Masehi)
Para tokoh besarnya antara lain: Anaximander (± 610-540 SM), Anaximenes
(± 585-525 SM), Thales (± 640-546 SM), Pythagoras (572-497 SM), Socrates
(± 470-399 SM), Plato (428- 348 SM), Aristoteles (382-322 SM), Marcus
Tullius Cicero (106-43 SM)
Pada zaman ini filsafat dan ilmu saling berkelindan menjadi satu dan
para filosof (ilmuwan) tidak terlalu pusing untuk memisahkannya menjadi
hal yang berlainan. Persoalan-persoalan ilmu berada seputar metode dan
substansi yang tidak lepas dari realitas yang biasa disebut filsafat
alam (kosmologi). Usaha pertamanya adalah melampaui mitologi-mitologi
tradisional menuju penjelasan rasional atas alam. Persoalannya berkisar
pada pencarian terhadap entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda.
Dimulai dengan tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximander
dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan
kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang
terus menerus di alam. Mereka mengembangkan kosmologi yang
mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi dari alam
semesta. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximander
menyatakan segala sesuatu berasal dari "yang tak terbatas", dan menurut
Anaximenes udara-lah yang merupakan unsur induk segala sesuatu.
Filosof berikutnya adalah Pythagoras. Penemuannya terhadap
interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan
perbandingan bilangan-bilangan dan penemuan tentang persamaan besaran
sudut segitiga sama sisinya yang terkenal mengungkapkan secara tersirat
bahwa segala sesuatu terdiri dari "bilangan-bilangan" dan struktur dasar
kenyataan itu adalah "ritme". Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala
fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah
bilangan. Pythagoras yang mengajar di Itali Selatan, adalah orang
pertama yang menamai diri "filsuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat
dan sekolah Pythagoras ini sangat penting untuk perkembangan matematika
dikemudian hari.
Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos yang menyatakan bahwa api sebagai
dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api
menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara
apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di
dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang
ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden
menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang
tetap. Kemudian ada filosof yang disebut-sebut sebagai peletak dasar
metafisika, yakni Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada itu
ada, yang tidak ada itu tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini
adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada
perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4)
mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada perubahan sebagaimana
klaim Herakleitos.
Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf Monisme yaitu pendirian
bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur
saja. Adapun para filsuf yang akan disebutkan berikut ini dikenal
sebagai filsuf Pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa
realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas
terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air.
Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip
yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Pluralis yang berikutnya
adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari
sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang
mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti
api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa
segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa
tumbuh dari daging. Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos
hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus
tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala
sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang
membedakan antara "ruhani" dan "jasmani". Pluralis selanjutnya adalah
Epikuros, Leukippos dan Demokritos yang juga disebut sebagai filsuf
Atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur
yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini
disebut atomos. Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai
kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides bahwa atom-atom tidak
dijadikan dan kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima pemikiran
tentang ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang
penuh dengan atom-atom dan yang kosong. Menurut Demokritos jiwa juga
terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain
sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola
(gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama
seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan
kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Atom jiwa
bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan
atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom
berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.
Kajian Filsafat diteruskan oleh Socrates. Filsafat dalam periode ini
ditandai oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf
sebelumnya. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada
persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek
penelitiannya pada manusia di atas bumi. Socrates memulai filsafatnya
dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret.
Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara
Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai
nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh
semua orang. Pendiriannnya yang terkenal adalah pandangannya yang
menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini
kadang-kadang disebut Intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates
menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedangkan dalam
perkembangan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan
memperkenalkan definisi-definisi umum.
Lalu ada muridnya yang bernama Plato. Hampir semua karya Plato ditulis
dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yang dominan dalam dialog
tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yang
begitu. Pertama, sifat karyanya Socratik – Socrates berperan sentral –
dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya
jawab dengan teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato
dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yang dikaguminya. Kedua,
berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat
pada intinya tidak lain daripada dialog, dan filsafat seolah-olah drama
yang hidup, yang tidak pernah selasai tetapi harus dimulai kembali.
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan metode
pengetahuan. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi
yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea
merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan
justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea
berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir di dalam benda,
idea-idea berpartisipasi dalam kongkret, dan idea merupakan model atau
contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada
gilirannya juga memberikam dua pengenalan. Pertama, pengenalan tentang
idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai
oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh,
jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum
sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat),
dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai
dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan
persoalan besar filsafat Pra-socratik yaitu pandangan pantarhei-nya
Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar,
dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah
berubah dan abadi. Tentang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka,
lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan
bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dengan
badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang
idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori
bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis)
terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistensi. Dunia
yang kelihatan, menurut Plato, hanya merupakan bayangan dari dunia yang
sungguh-sungguh, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal
dari dunia ide-ide. Jiwa di dunia ini terkurung di dalam tubuh. Keadaan
ini berarti keterasingan. Jiwa kita rindu untuk kembali ke "surga
ide-ide".
Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal daripada suatu sistem
pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika,
epistemolgi, antropologi, teologi, etika, politik, ontologi, filsafat
alam dan estetika.
Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah
usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama
"Akademia" yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama
Akademos. Mata pelajaran yang paling diperhatikan adalah ilmu pasti.
Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan; "yang
belum mempelajari geometri janganlah masuk di sini".
Tradisi estafet filsafat kemudian diteruskan oleh Aristoteles, yang
merupakan murid dari Plato sendiri. Spektrum pengetahuan yang diminati
oleh Aristoteles luas sekali, menurutnya pengetahuan manusia dapat
disistemasikan sebagai berikut; pengetahuan teoritis, praktis,
produktif, teologi/metafisik, matematik, fisika, etika, politik, seni,
ilmu ukur dan retorika. Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak
termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan
sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam
sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Mengenai pengetahuan,
Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan
induksi dan deduksi, Induksi mengandalkan panca indera yang "lemah",
sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam
logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yang
dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu
cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogosme).
Didalam fisikanya, Aristoteles mempelajari dan membagi gerak (kinetis)
menjadi dua; gerak spontan dan gerak aksidental. Gerak spontan yang
diartikan sebagai perubahan secara umum dikelompokkan menjadi gerak
subsitusional yakni sesuatu menjadi sesuatu yang lain seperti seekor
anjing mati dan gerak aksidental yakni perubahan yang menyangkut salah
satu aspek saja. Gerak aksidental ini berlangsung melalui tiga cara;
yaitu gerak lokal seperti meja pindah dari satu tempat ke tempat lain,
gerak kualitatif seperti daun hijau menjadi kuning, dan gerak
kuantitatif seperti pohon tumbuh membesar. Dalam setiap gerak ada 1)
keadaan terdahulu, 2) keadaan baru, dan 3) substratum yang tetap.
Sebagai contoh air dingin menjadi panas; dengan dingin sebagai keadaan
terlebih dahulu, panas sebagai keadaan baru dan air sebagai substratum.
Analisa gerak ini menuntut kita membedakan antara aktus dan potensi.
Dalam fase pertama panas menjadi potensi air dan pada fase kedua panas
menjadi aktus. Aristoteles juga mengintrodusir pengertian bentuk (morphe
atau eidos) dan materi (hyle) ke dalam analisa geraknya. Dalam contoh
air dingin menjadi panas, air sebagai hyle dan dingin serta panas
sebagai morphe. Aristoteles mengatakan alam yang tidak hidup terdiri
dari empat anasir api, udara, air dan tanah; dan bahwa setiap anasir
menuju ketempat kodratinya (locus naturalis). Berkaitan dengan jagat
raya Aristoteles mengatakan bahwa kosmos terdiri dari dua wilayah yaitu
wilayah sublunar (di bawah bulan) dan wilayah yang meliputi bulan,
planet-planet dan bintang-bintang. Jagat raya berbentuk bola dan
terbatas, tetapi tidak mempunyai permulaan dan kekal. Badan-badan jagat
raya diluar bumi semua terdiri dari anasir kelima yaitu ether yang tidak
dapat dimusnahkan dan tidak dapat berubah menjadi anasir lain. Gerak
kodrati anasir ini adalah melingkar. Pandangan psikologi Aristoteles
adalah bahwa jiwa dan badan dipandang sebagai dua aspek dari satu
substansi. Badan adalah materi dan jiwa dalam bentuk dan masing-masing
berperan sebagai potensi dan aktus. Pada manusia, jiwa dan tumbuh
merupakan dua aspek dari substansi yang sama yakni manusia. Anggapan ini
mempunyai konsekuensi bahwa jiwa tidak kekal karena jiwa tidak dapat
hidup tanpa materi. Potensi dan aktus juga mempunyai bentuk dalam
pengenalan inderawi. Pengenalan inderawi tidak lain adalah peralihan
dari potensi (yakni dari aktus obyek) ke aktus organ tubuh. Sebagaimana
proses pengenalan inderawi dalam pengenalan rasional bentuk tepatnya
bentuk intelektual diterima oleh rasio. Bentuk intelektual ialah bentuk
hakikat atau esensi suatu benda. Fungsi rasio dibagi menjadi dua macam
yaitu rasio pasif (nus pathetikos) yang menerima esensi dan rasio aktif
(nus poitikos) yang "membentuk" esensi.
Ta meta ta physica berarti hal-hal sesudah hak-hal fisis. Di dalam
Metaphysica-nya Aristoteles membahas Penggerak Utama. Gerak utama di
jagat raya tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karena setiap
sesuatu yang bergerak, digerakkan oleh sesuatu yang lain perlulah
menerima satu Penggerak Pertama yang menyebabkan gerak itu, tetapi ia
sendiri tidak digerakkan. Penggerak ini sama sekali lepas dari materi,
karena segalanya yang mempunyai materi mempunyai potensi untuk bergerak.
Dalam filsafat, Aristoteles disebut sebagai tokoh madzhab Peripatis
(peripatos, berjalan-jalan) yang menyadarkan diri pada deduksi untuk
memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan gurunya, Plato merupakan tokoh
madzhab Illuminasionis yang juga mengandalkan jalan hati, asketisme dan
penyucian jiwa dalam menyingkap realitas. Filsafat Aristoteles sangat
sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar
sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika,
politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Ada satu tokoh lagi yang
tidak boleh ditinggalkan, yakni Marcus Tullius Cicero. Sebagaimana yang
sudah diketahui, ia adalah seorang filsuf dari Romawi yang terkemuka
dari aliran Stoicisme. Aliran yang didirikan oleh Zeno dari Citium.
Dimana beberapa pandangan menurut kaum Stoicisme, yakni. Pertama, dalam
hal logika mereka menekankan kalkulus proposional dan menurunkan
kaitan-kaitan logis dari akal sendiri oleh semacam keniscayaan logis.
Kedua, epistemologi Stoicisme memberikan sumbangsih ungkapan “pandangan
umum” kepada filsafat. Mereka berpandangan bahwa semua manusia mempunyai
sekumpulan ide yang umum. Ide-ide itu berperan dalam synkatathesis
(penerimaan proporsi-proporsi kebenaran). Ketiga, dalam fisika mereka
menekankan hakikat jasmani semua benda dan memandang dunia sebagai
sesuatu yang dapat ditentukan.
C. Periode Mediaeval (Abad tengah)
Para tokoh besarnya antara lain: Plotinos (205-270), al-Kindi (801-866),
al-Farabi (870-950), Ibn Sina (980-1037), Ibn Rushd (1126-1198),
Maimonides (1135-1204), Thomas Aquinas (1225-1274), Bonaventura
(1217-1274), Albertus Magnus (1220-1280), Yohanes Duns Scotus
(1266-1308).
Seorang filsuf Mesir, Plotinos mengajarkan suatu filsafat yang sebagian
besar berdasarkan pada ajaran Plato dan yang kelihatan sebagai suatu
agama. Neo-platonisme ini mengatakan bahwa seluruh kenyataan merupakan
suatu proses "emanasi" (penampakan) yang berasal dari Yang Esa dan yang
kembali ke Yang Esa. Berkat "eros": kerinduan untuk kembali ke asal
ilahi menjadi tujuan dari segala sesuatu. Ajaran falsafi-teologis dari
Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh Plotinos. Mereka berusaha untuk
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam
dari manusia. Mereka berhasil membela ajaran kristiani terhadap tuduhan
dari pemikir-pemikir kafir.
Sekitar tahun 1000 Masehi peranan Plotinos diambil alih oleh penganut
Aristoteles. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani
menghasilkan banyak filsuf penting, diantaranya Thomas Aquinas,
Bonaventura, Albertus Magnus, Yohanes Duns Scotus. Mereka sebagian besar
berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad Pertengahan, yaitu
para Dominikan dan Fransiskan. Filsafat mereka disebut Skolastik (dari
kata Latin scholasticus, "guru"). Dalam periode ini filsafat diajarkan
dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu
kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tema-tema pokok
dari ajaran mereka itu: hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat
Tuhan, antropologi, etika dan politik.
Di Timur Tengah sendiri, pada masa ini paham-paham Aristoteles menjadi
masyhur kembali melalui beberapa filsuf Islam dan Yahudi, diantaranya
Avicena, Averroes dan Maimonides. Tokoh filsafat Muslim yang pertama
dikenal adalah al-Kindi. Pandangannya meliputi metode logika untuk
mencari kebenaran, matematika dan fisika. Kemudian disusul al-Farabi
yang mengeksplorasi ilmu geometri dan mekanika sekaligus ia seorang
musikus yang besar. Adapun Ibn Shina dikenal sebagai peletak dasar
kaidah kedokteran dengan kitabnya yang berjudul Qanun fi al-Thibb.
Beliau juga mengarang kitab as-Syifa yang berisi tentang matematika,
metafisika, fisika, psikologi, zoology, geologi, botani, ilmu astronomi
dan music. Sedangkan Ibn Rusyd dikenal sebagai lewat komentarnya atas
karya-karya Aristoteles.
D. Abad ke-17 sampai Abad ke-19
Para tokoh besarnya diantara lain: Nicolaus Copernicus (1473-1543),
Johannes Keppler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1642), Francis Bacon
(1562-1626), René Descartes (1596-1650), Blaise Pascal (1623-1662),
Benedictus de Spinoza (1632-1677), Gottfried Wilhelm Leibnez
(1646-1716), John Locke (1632-1704), Isaac Newton (1642-1727), George
Berkeley (1685-1753), Christian Wolff (1679-1754), David Hume
(1711-1776), Immanuel Kant (1724-1804), Auguste Comte (1798-1857),
George Friedrich Wilhelm Hegel (1770-1831), George Boole (1815-1864),
Augustus De Morgan (1806-1871), Herbert Spencer (1820-1903), Henry
Sidgwick (1838-1900), Karl Marx (1818-1883)
Pembaharuan yang kelihatan dalam filsafat Renaissance dan Aufkleraung
adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak berlandaskan pada “hukum Tuhan”,
seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan pada penalaran dari manusia
itu sendiri untuk mengungkapkan kebenaran. Mulai sekarang manusia-lah
yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Filsuf-filsuf ini
menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi ("ratio") manusia. Para
filsuf mencoba melepaskan diri dari cengkraman gereja, sehingga kemudian
dikenal istilah sekuralisasi pengetahuan. Tokoh awalnya adalah
Copernicus yang mengintrodusir dalil bahwa bumi bukan pusat dari alam
semesta, bukan seperti yang dikemukakan Ptolomeus dimana bumi adalah
pusat jagad raya (geosentis) yang diperkuat oleh gereja. Teori
Copernicus ini melahirkan revolusi pemikiran tentang ilmu astronomi.
Kemudian muncul Keppler yang mengemukakan hukum astronomi bahwa orbit
dari semua planet berbentuk elips. Pendapat ini diperkuat dengan
pembuktian Galileo, dimana ia menyatakan bahwa pusat jagad raya adalah
matahari (heliosentris). Dan bumi mengalami dua gerak (rotasi); yakni
bergerak pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari. Ada juga
Pascal yang menyusun dasar-dasar perhitungan statistic. Kemudian Newton
yang melahirkan teori grafitasi, perhitungan calculus dan sistem kerja
optik.
Adalah Francis Bacon yang menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan
dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”. Pada abad ini
perdebatan tentang filsafat ilmu tidak lepas dari perdebatan dalam ilmu
itu sendiri. Bacon dengan metode induksi yang memandang dalam
menghasilkan ilmu pengetahuan para ilmuwan harus menghasilkan penyebutan
yang seksama terhadap fenomena empiris yang diselidiki sebagai
pendahuluan untuk mengidentifikasi “bentuk” obyek yang ingin dijelaskan.
Berbeda dengan Descrates yang terfokus pada persoalan penyusunan
sistem-sistem deduktif yang serba koheren dan konsisten dalam teori
pengetahuan. Pada abad ini berbagai aliran filsafat muncul. Adapun
paham-paham yang muncul secara garis besar adalah Rasionalisme,
Empirisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme dan Marxisme.
Pertama, aliran Rasionalisme mengajarkan bahwa akal (rasio) adalah alat
terpenting untuk memperoleh dan menguji ilmu pengetahuan. Tokoh penting
dalam aliran ini adalah Descrates, Spinoza, Leibniz dan Wolff.
Kedua, aliran Empirisme menyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran
kita selain didahului oleh pengalaman. Aliran ini secara tegas menolak
pandangan paham Rasionalisme yang berdasarkan pada kepastian yang
bersifat apriori. Pelopor aliran ini adalah Francis Bacon, kemudian
dikembangkan oleh Thomas Hobbes, Jhon Locke, George Berkeley dan David
Hume.
Ketiga, aliran Kritisisme dari seorang filsuf Jerman yang bernama
Immanuel Kant. Aliran ini berusaha menjembantani pandangan-padangan yang
saling bertentangan antara Rasionalisme dan Empirisme. Menurut Kant,
pengetahuan merupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya
kerjasama antara dua komponen, yaitu bahan-bahan yang bersifat
pengalaman indrawi disatu pihak dengan pengolahan kesan-kesan yang
bersangkutan sehingga terdapat suatu hubungan sebab akibat dalam
kerangka pikir (rasio) dipihak lain. Kant mengemukakan bahwa pengetahuan
harusnya sintesis a priori, yakni pengetahuan harus bersumber dari
rasio dan empiris dan sekaligus bersifat apriori dan aposteriori.
Keempat, Idealisme yang bermula pada pemikiran Idealismenya Plato.
Diawali dengan Idealisme Subjektifnya Fitche dan Idealisme Objektifnya
Scelling. Kemudian keduanya disintesiskan dalam filsafat Idealisme
mutlaknya Hegel. Namun demikian pada dasarnya sumber filsafat aliran ini
adalah mengikuti filsafat Kritisismenya Kant.
Kelima, Positivisme yakni sistem filsafat yang dikembangkan oleh Auguste
Comte, seorang matematikus dan filsuf dari Prancis, yang mengakui bahwa
sumber pengetahuan berasal dari fakta-fakta positif dari
fenomena-fenomena yang bisa diobservasi. Filsafat Positivisme ini juga
disebut dengan Empirisme-kritis. Dan dari filsafat ini dikemudian hari
lahirlah bidang ilmu sosiologi.
Keenam, Marxisme yang didirikan oleh Karl Marx atas perpaduan antara
metode dealektika Hegel dan filsafat Materialisme Feuerbach. Pemikiran
Marx bertalian sangat erat dengan sistem sosial dan ekonomi. Bagi Marx
masalah filsafat bukan hanya sebatas masalah ilmu pengetahuan, melainkan
juga masalah tindakan. Para filosof selama ini hanya sekedar
menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun luput untuk berusaha
mengubahnya. Filsafat ini juga yang melatari adanya revolusi industri di
Eropa dan ideologi-ideologi besar di dunia.
E. Perbincangan Abad ke-20
Para tokohnya diantara lain: William James (1842-1910), Wilhelm
Windelband (1848-1915), Friedrich Ludwig Gottlob Frege (1848-1925),
Miguel De Unamuno Y Jugo (1864 - 1936), Moritz Schlick (1882-1936),
Sigmund Freud (1856-1939), Alfred North Whitehead (1861-1947), Jhon
Dewey (1859-1952), George Edward Moore (1873-1958), Bertrand Arthur
William Russell (1872-1970), Jacques Maritain (1882-1973), Jean Paul
Sartre (1905-1980), Michel Foucault (1926-1984), Francois Lyotard
(1924-1998), Jacques Derrida (1930-2004)
Pada abad ini perkembangan ilmu pengetahuan ditandai dengan munculnya
berbagai aliran filsafat, yang kebanyakan dari aliran-aliran itu
merupakan kelanjutan dari aliran pada abad sebelumnya. Diantaranya:
Neo-thomisme, Neo-kantianisme, Neo-hegelianisme, Neo-Marxisme,
Neo-Positivisme dan sebagainya. Dan ada juga aliran yang baru dengan
corak yang sama sekali berbeda dengan aliran sebelumnya, diantaranya:
Analitisme, Eksistensialisme, Strukturalisme, Pragmatisme dan
Postmodernisme. Akan lebih menarik apabila penjelasan kajian dan
perbincangan ilmu pada masa ini difokuskan hanya kepada beberapa aliran
yang masih berkembang hingga dewasa ini.
Pertama, Filsafat Analitis merupakan aliran terpenting di Inggris dan
Amerika Serikat, sejak sekitar tahun 1950. Filsafat Analitis (yang juga
disebut Analitic Philosophy dan Linguistic Philosophy) menyibukkan diri
dengan analisis bahasa dan analisis konsep-konsep. Filsafat analitis ini
sangat dipengaruhi oleh Wittgenstein dan Bertrand Russell. Wittgenstein
mengungkapkan bahwa apa yang dihasilkan oleh sebuah karya filsafat
bukan melulu sederetan ungkapan filsafati, melainkan upaya membuat
ungkapan-ungkapan menjadi jelas. Tujuan filsafat adalah penjelasan logis
terhadap pemikiran; filsafat bukan doktrin melainkan aktifitas. Dengan
demikian jelaslah bahwa para filsuf Analitik ini memberi respons atas
aliran Idealisme yang lebih menekankan pada upaya pengintrodusiran
ungkapan-ungkapan filsafat yang kebanyakan bermakna ganda, kabur dan
tidak terpahami oleh nalar.
Kedua, Eksistensialisme mengajukan protes dan pemberontakan terhadap
Rasionalisme dan Idealisme Hegel. Aliran ini menekankan pada peran
individu dan menolak dengan tegas alam impersonal (tanpa kepribadian)
yang dihasilkan dari zaman industri modern. Salah seorang tokoh aliran
ini adalah Jean Paul Sartre yang membedakan rasio dialektis dan rasio
analitis. Kedua rasio ini harus dijalankan dalam mengungkapkan ilmu
pengetahuan.
Ketiga, Strukturalisme berkembang di Perancis, lebih-lebih sejak tahun
1960. Strukturalisme berawal dari suatu sekolah pemikiran dalam bidang
filsafat, linguistik, psikiatri, fenomenologi agama, ekonomi dan
politikologi. Sturukturalisme menyelidiki "patterns" (pola-pola dasar
yang tetap) dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem ekonomi dan
politik, dan dalam karya-karya kesusasteraan. Tokoh-tokoh terkenal dari
Strukturalisme antara lain Cl. Lévi-Strauss, J. Lacan dan Michel
Foucault.
Keempat, Pragmatisme merupakan gerakan filsafat dari Amerika.
Pragmatisme dikenal juga dengan sebutan Instrumentalisme. Aliran ini
menerapkan suatu sikap dalam berfilsafat dengan memakai akibat-akibat
praktis dari pikiran unutk memberikan tolak ukur terhadap nilai
kebenaran suatu ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Tokoh dari aliran ini
adalah William James dan Jhon Dewey.
Kelima, Postmodernisme atau dikenal dengan nama lain Post-strukturalisme
lahir sebagai reaksi terhadap kegagalan modernisme. Klaim-klaim dari
kaum Postmodernisme tentang “berakhirnya modernisme” dimaksudkan untuk
menunjukkan berakhirnya anggapan modern tentang “dunia subyek” dan
“dunia obyektif”. Tokohnya yakni Lyotard dan Derrida yang ingin
mendobrak tatanan modenitas telah terjebak dalam mitos bahwa ilmu
pengetahuan dan aplikasinya dalam teknologi telah mampu menyelesaikan
persoalan kemanusiaan. Padahal dalam tataran realitasnya, banyak
persoalan kemanusiaan yang muncul sebagai dampak dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
F. Kesimpulan
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa perkembangan historis dari aliran-aliran ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Masa Klasik
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh
karakteristik kosmosentris. Terjadi silang pendapat yang saling
bertentangan dari aliran-aliran kaum Stoic dan Epicurus serta
paham-paham Plato dan Aristoteles.
b. Abad Pertengahan
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh
karakteristik teosentris. Pada periode ini ilmu pengetahuan berpihak
penuh pada otoritas agama (yang dalam hal ini bisa direpresentasikan
oleh gereja dalam tradisi kristen); dimana ilmu pengetahuan berada
dibawah pengawasan institusi gereja. Pengajaran imu-ilmu pengetahuan
dilaksanakan digereja-gereja. Bukan hanya di barat, di dunia timur
tengah (yang notabenenya merupakan daerah kekuasaan umat Islam),
permasalahan ilmu pengetahuan juga diwarnai dengan perbincangan para
penganut Plato dan aristoteles.
c. Abad XVII- XIX
Pada masa ini Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi
oleh karakteristik antroposentris. Perbincangan tentang pencarian
kebenaran lebih mengarah mengenai metodologi ilmiah yakni dengan
hampiran induktif dari Francis Bacon dan hampiran deduktif dari René
Descartes. Pada periode ini melimpah aliran-aliran pencarian sumber
pengetahuan ilmiah, dimulai dari kaum rasionalis dan kaum empiris
disusul Kritisisme serta Idealismenya pengembangan Kantians melalui
pengenalan metode kritis dalam filsafatnya, lalu kaum Positivis dan
terakhir paham Marxisme.
d. Abad XX
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh
karakteristik logosentris. Babak dimulainya tanggapan-tanggapan terhadap
relativitas, mekanika kuantum dan perubahan mendalam lainnya dalam
ilmu-ilmu kealaman. Serta timbulnya berbagai aliran filsafat; baik
sebagai tanggapan atas paham aliran sebelumnya ataupun dengan corak
pemikiran yang sama sekali baru.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet II. Jakarta; Gramedia. 2000.
Bakhtiar Amsal. Filsafat Ilmu. Cet II. Jakarta; Raja Grafino Persada. 2005.
Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Cet VIII. Yogyakarta; Liberty. 2010.
Muntasyir, Rizal & Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Cet IX. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 2009.
Muslehuddin, Muhammad. Filsafat Hukum Islam dan Pemikiran Orientalis. (Pent:
Yudian W. Asmin). 1991. Yogyakarta; Tiara Wacana.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Cet IV. Jakarta; Gaya Media Pratama. 2005.
Ravertz, Jerome R. The Philosophy of Science. (Pent: Saut Pasaribu). Cet IV. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 2009.
Siswanto, Joko. Sistem-sistem Metafisika Dunia Barat: Dari Aristoteles sampai Derrida. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 1998.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM. Filsafat Ilmu. Cet V. Yogyakarta; Liberty. 2010.
http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/04/sejarah-filsafat-klasik-filsafat-yunani.html